Selasa, 22 Maret 2011

prince symphony

“Yaah, sekolah baru, teman baru dan lingkungan baru. Seharusnya ini bisa membuatku senang karena semua yang akan kuhadapi adalah hal-hal baru, tapi di sisi lain aku benci karena pekerjaan ayahku yang selalu berpindah-pindah ini membuatku harus berpindah-pindah sekolah juga dan tidak pernah punya teman dekat. Mungkin bagi sebagian orang menjadi anak seorang duta besar adalah hal yang menyenangkan karena selalu berkeliling di beberapa negara tapi bagiku, TIDAK SAMA SEKALII!!”keluh Allysa saat memasuki gerbang kampusnya. Ini adalah hari pertama dia merasakan kuliah, setelah dia lulus dari SMA, kini ia melanjutkan kuliahnya di Korea, tepatnya di Seoul.
“Papa kenapa nyuruh aku kuliah disini sih, kan sudah kubilang aku mau kuliah di Jakarta dan tinggal sama nenek!!Arrrgh!!”teriak Allysa di tengah orang-orang yang sedang duduk di taman yang ada di kampusnya. Mereka yang ada disitu pun sontak melihat Allysa. Allysa yang merasa diperhatikan bersikap cuek seolah seperti tidak terjadi apa-apa disitu.
“Kelasku dimana ya? Apa mungkin yang ini?”Allysa mencoba mencocokkan tulisan di kertas yang ada di tangannya. “Ah benar ternyata, keberuntungan berpihak padaku hari ini karena aku tak perlu sulit lagi mencarinya.”ucapnya dalam hati. Allysa pun melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Dan ternyata yang tadinya keberuntungan berpihak padanya kini berubah menjadi kesialan, karena saat ia masuk semua orang sudah memulai pelajaran. “Sudah mulai??padahal kan Cuma terlambat 15 menit, kok sudah mulai. Untung dosennya belum masuk. Fiuuh..” Allysa langsung duduk di kursi kosong di sebelah cowok yang sedang asyik menulis.
Dan lebih sial lagi kelakuannya tadi dilihat oleh dosennya. Dan bisa ditebak apa yang dilakukan dosennya yaitu “Kamu yang baru masuk, silahkan keluar karena kamu sudah terlambat 15 menit”.
“Tapi bu, saya anak baru?”Allysa berharap dengan perkataannya ini membuat ibu itu berubah pikiran. “Ibu tidak peduli kamu anak baru atau sudah lama disini. Yang jelas kedatanganmu sudah telat 15 menit.” Sebenarnya ia masih ingin berdebat dengan ibu itu tapi demi menjaga kesopanan ia memilih keluar. Meskipun saat keluar ia terus mengumpat dan mengutuki ibu tersebut. “Ibu ngga tau saya anak siapa? Saya anak dubes bu. Liat aja klo sampai Indonesia dan Korea menghentikan kerjasamanya, nyesel ibu bertingkah semena-mena pada saya”. Meskipun ia tau hal itu mustahil terjadi.
***
Sudah 2 hari Alyssa duduk sebangku dengan cowok disebelahnya tapi ia belum tau nama cowok itu, karena setiap Allysa ingin mengajaknya berbicara atau bertanya sesuatu ia hanya menjawab dengan mengangguk tidak pernah berbicara sepatah kata pun. Allysa jadi merasa seperti berbicara dengan orang bisu. Sempat Allysa berpikir bahwa cowok ini memang bisu tapi ia mencoba menjauhkan pikirannya itu. Hari ini Allysa mencoba memberanikan diri untuk berkenalan dengannya karena ia merasa aneh jika teman sebangku tidak mengenal satu sama lain.
“Anyeong, joneun Alyssaimnida” sapa Allysa mencoba memulai pembicaraan pada teman sebangkunya. Tapi yang disapa hanya menanggapi dengan dingin, dan menjawab dengan menunjuk pin nama di kemejanya tanpa memalingkan wajahnya dari buku yang sedang ia baca.
“Benar-benar tidak sopan, kalau pin di kemejamu itu aku bisa membacanya sendiri walaupun bahasa koreaku tidak begitu lancar, tapi yang kumau adalah kamu menanggapi ucapanku, kenapa sikapmu seperti orang bisu begitu, huuh!!tak bisa kubayangkan aku harus sebangku denganmu. Dasar orang bisu.”ucapnya kesal. Cowok itu tiba-tiba memalingkan wajahnya pada Allysa dan menunjukkan mimik marah.
“Kenapa, kamu marah?? Seharusnya aku yang marah karena kamu gak pernah menanggapi ucapanku. Aku jadi kayak orang gila berbicara sendiri. Kamu bisu ya??”Allysa mencoba memancing amarah cowok itu dan berharap cowok itu sekarang berbicara.
Wajah Jeong Woon memerah, dihempaskannya buku yang sedari tadi ia baca dan pergi meninggalkan Allysa. Allysa yang ditinggalkan bingung melihat sikap aneh Jeong Woon. “Apakah bicaraku tadi terlalu kasar sampai membuatnya marah.”ucapnya dalam hati. Orang-orang di sekeliling Allysa menatapnya dengan tatapan aneh, mungkin mereka menganggap kata-katanya memang terlalu kasar. Allysa jadi merasa bersalah pada Jeong Woon.
***
Allysa berjalan menyusuri sepanjang koridor yang ada di kampusnya. Ia baru ingat setelah beberapa hari masuk kuliah ia belum sempat berkeliling melihat-lihat keadaan kampus. Ternyata kampusnya itu jika diperhatikan baik-baik sangat indah. Dengan beberapa pohon sakura yang menghiasi taman di sekitar situ, tanaman-tanaman unik yang sengaja di tanam di sekitar kampus membuat taman itu semakin cantik. Tapi meskipun keadaannya sekarang senang tetap saja pikirannya masih tertuju pada Jeong Woon yang tadi telah dibuatnya marah. Ia merasa harus segera minta maaf padanya agar masalahnya tidak tambah panjang. Tapi sesuatu yang menarik perhatiannya telah membuatnya lupa pada rencana yang ada dipikirannya tadi.
Sayup-sayup Allysa mendengar orang memainkan piano dari arah koridor belakangnya. Sebuah alunan nada yang indah sekali sampai membuatnya memejamkan matanya sesaat hanya untuk fokus mendengar alunan nada indah tersebut. Hal itu membuatnya penasaran dengan orang yang bisa memainkan nada indah itu. Ia mendatangi arah nada itu dan akhirnya membawanya ke sebuah aula besar. Disitu ia melihat seorang cowok yang sedang memainkan piano di atas panggung. Tapi ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah cowok itu.
Allysa duduk di sebelah gadis yang sendirian menonton di aula itu. Di aula itu tidak ada orang lain selain Allysa, gadis itu dan cowok yang memainkan piano itu. “Hai, aku Allysa. Namamu siapa??” sapa Allysa. “Aku Soon Yee, senang bertemu denganmu” sahutnya ramah. “Senang juga bertemu denganmu. Kamu suka mendengar orang main piano??”tanya Allysa.
“Sebenarnya dulu tidak menyukainya tapi semenjak mendengar Symphony Prince, itu membuatku menyukainya” jawabnya. “Jadi judul lagu yang dimainkannya ini adalah Symphony Prince. Ini pertama kalinya aku mendengar lagu ini tapi kayaknya aku suka.”
Gadis itu tersenyum mendengar ucapan Allysa. “Simphony Prince itu bukan judul lagu tapi itu julukanku pada orang itu.”tunjuknya pada cowok yang masih asyik menekan tuts-tuts piano tersebut. “Hhe..maaf kupikir itu judul lagunya ternyata dugaanku salah. Julukan?? Apa artinya kamu sering mendengarkan orang itu bermain piano??”tanya Allysa ingin tahu.
“Uhhmm..sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara. Maaf sekarang waktunya untuk masuk kelas. Jadi aku harus pergi”. pamitnya sambil tergesa-gesa meninggalkan aula. Sekarang tinggalah Allysa sendiri disitu yang masih setia mendengarkan. Tapi sayangnya beberapa saat setelah Soon Yee meninggalkan tempat itu nada-nada yang dimainkan orang itu berhenti.
Orang itu menutup pianonya setelah selesai memainkan. Ia tidak sadar bahwa Allysa sedang mendatanginya. “Hai, Aku Allysa. Aku senang mendengar permainan pianomu. Boleh aku..”kata-katanya terpotong setelah tahu ia berbicara dengan siapa. “Jeong Woon??ternyata kamu yang memainkannya. Boleh aku tahu judulnya??”tanya Allysa tanpa menyadari bahwa sebelumnya Jeong Woon telah membuatnya kesal.
Lagi-lagi Jeong Woon bersikap dingin padanya dan tidak menanggapi kata-katanya. “Kamu masih marah??maafkan aku karena tadi memang salahku telah berkata kasar. Sekali lagi tolong...”kata-katanya terpotong lagi karena lonceng tanda berakhirnya istirahat berbunyi.
Jeong Woon keluar dari aula tanpa menghiraukannya sambil diikuti Allysa yang terus meminta maaf padanya. Begitu terus yang dilakukan Allysa sampai setibanya di kelas. Dan hal itu baru berakhir setelah Jeong Woon menatap tajam pada Allysa tanda bahwa ia harus menutup mulutnya.
Kemudian Jeong Woon mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu di atasnya. Beberapa saat kemudian diserahkannya kertas itu pada Allysa.
“Aku telah memaafkanmu dan berhenti merengek minta maaf seperti anak kecil, itu membuatku sedikit muak.”tulisnya. Allysa yang membacanya melonjak kesenangan karena permintaan maafnya diterima dan hampir saja memeluk Jeong Woon saking senangnya.
Meskipun sudah dimaafkan, Allysa kembali mengomel dalam hati, “Memangnya sebegitu susahnya menyampaikan maaf dengan ucapan sampai harus ditulis di kertas segala. Atau orang ini merasa gengsi jika harus meminta maaf secara langsung. Entahlah, yang yang penting maafku diterima.” Tanpa disadarinya Jeong Woon memperhatikan tingkah Allysa.
***
Sekarang jam pelajaran telah berakhir, tiba-tiba terlintas dalam benak Allysa untuk pergi ke aula. Ia pun melangkahkan kakinya menuju aula.
Jeong Woon sedang asyik memainkan piano saat Allysa tiba-tiba mendatanginya. “Hai Jeongwoon, maaf jika kedatanganku mengganggumu tapi kuhanya ingin melihatmu memainkan piano.” Jeongwoon tersenyum dan menyilakan Allysa duduk di sebelahnya, jadi mereka duduk kursi yang sama. “Jeongwoon aku baru tahu saat kau memainkan piano kau hanya menggunakan tangan kananmu saja. Itu lucu. Tapi tidak apa-apa karena menurutku suara dentingan pianomu tidak kalah dengan orang yang memainkan dengan kedua tangannya.” Jeongwoon menanggapinya dengan tersenyum tidak lagi dingin seperti biasanya.
Allysa sempat tidak percaya pada penglihatannya. Jeongwoon yang selama ini dingin, tidak pernah mengeluarkan kata-kata dari mulutnya dan tidak pernah tersenyum kini tersenyum padanya.
Selesai memainkan piano Jeongwoon menarik tangan Allysa dan mengajaknya ke suatu tempat. Dan Allysa pun menurut kemana tangannya dibawa. Sebenarnya Allysa bingung dengan sesuatu yang terjadi hari ini yang terbalik dengan keadaannya sebelumnya. “Mungkin pikirnya ia merasa bersalah karena selalu bersikap dingin padaku, jadi ia ingin menebusnya dengan bersikap baik denganku.” Pikir Allysa.
Oleh Jeongwoon, Allysa dibawa ke suatu taman. Kebetulan taman itu sedang ramai. Disitu Jeongwoon membeli gulali untuk mereka berdua.
“Sebenarnya kenapa kamu tiba-tiba membawaku tempat ini Jeongwoon??”tanya Allysa saat mereka sama-sama duduk di bangku taman.
Jeongwoon mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya yaitu sebuah kalung berbentuk nada. Kemudian ditekannya sebuah tombol yang ada di mata kalung itu dan didekatkannya kalung itu ke telinga Allysa. Rupanya kalung itu juga sebuah mp3.
“Simfoni yang indah. Ini ciptaanmu sendiri??” tanya Allysa setelah selesai mndengarkan. Jeongwoon mengangguk. “Dua minggu lagi ada perlombaan menciptakan lagu, mungkin kamu bisa mencoba ikut dengan membawakan lagu ini, kau mau ikut??aku bisa mendaftarkanmu”. Ia terdiam sejenak, tapi lalu mengangguk.
***
Dua hari sebelum perlombaan Jeongwoon tidak masuk kuliah. Allysa bingung sebab Jeongwoon tidak memberi kabar sama sekali. Ia menatap kalung berbentuk nada yang diberikan Jeongwoon dan itu membuatnya semakin khawatir.
Allysa mendatangi alamat Jeongwoon yang telah didapatnya.Tapi saat ia datang kesana, ia salah rumah. Orang di sana mengatakan bukan Kim Jeongwoon yang tinggal disana tapi Kim Joonwoon. “Mungkin saat aku bertanya di kampus tadi, orang yang ditanyai salah mendengar. Jadi aku salah alamat.” Pikirnya dalam hati.
Besoknya, 2 jam sebelum perlombaan dimulai Jeongwoon belum juga terlihat. Allysa memutuskan bertanya lagi pada bagian kesiswaan untuk mendapatkan alamat Jeongwoon. Tapi mereka mengatakan sedang sibuk jadi tidak bisa melayani. Kali ini Allysa benar-benar kesal tidak bisa menemukan Jeongwoon.
Allysa pasrah mungkin Jeongwoon memang benar-benar ada keperluan mendadak jadi tidak bisa hadir disini.
“Hai, Allysa!kamu kenapa, seperti sedang kesal?” sapa cewek yang tiba-tiba muncul dihadapannya. “Soon Yee. Kamu benar aku memang sedang kesal, karena Prince Symphony tidak menepati janjinya”.
“Mungkin dia harus minta maaf padamu karena telah meingkari janji. Tapi dia menitipkan pesan untukmu, sebaiknya kamu membacanya”Soon Yee menyerahkan sebuah surat yang ditujukan untuk Allysa.
Ia pun membacanya. “Tapi boleh aku tau sekarang Jeongwoon dimana??” tapi yang ditanya sudah tidak ada lagi di tempat.
Di dalam surat itu dikatakan bahwa Jeongwoon sekarang tidak bisa mengikuti perlombaan tersebut karena ada suatu hal yang tidak bisa dijelaskannya sekarang. Jadi ia meminta Allysa yang nanti akan membawakan lagu miliknya.
Allysa tidak percaya sesuatu yang akan ia bayangan nanti bahwa saat Jeongwoon nanti memainkan piano ia akan duduk di barisan paling depan memberi support padanya tidak akan terjadi.
Ia sedih karena tidak bisa bertemu Jeongwoon sekarang dan juga bingung saat disuruh memainkan lagu itu tanpa persiapan sedikit pun. Akhirnya ia mencoba mendengarkan lagu yang ada di kalungnya itu lagi karena sebelumnya ia sering melakukannya di rumah. Didengarkannya baik-baik, kemudian diresapinya bunyi nada-nada piano yang dimainkan.
Dan sampai saat gilirannya tiba, ia merasa sangat gugup, keringatnya bercucuran deras. Ia pun duduk perlahan. Ini pertama kalinya ia memainkan piano di depan orang banyak.
Ia mulai memainkan intro lagu tersebut. Sampai sejauh ini permainannya masih mulus, tapi saat masuk ke pertengahan lagu ia merasa lebih gugup bahkan menjadi gemetar. Tiba-tiba tangannya berhenti memainkan piano padahal lagunya belum berakhir.
Penonton bingung kenapa Allysa berhenti. Tapi sesaat kemudian Allysa melanjutkan permainannya sampai akhir. Selesai memainkan piano penonton langsung memberinya tepuk tangan meriah. Allysa pun memberi hormat dan berlalu dari panggung. Tapi ia merasa ada yang aneh saat berlalu dari panggung, ia seperti melihat Jeongwoon duduk di barisan belakang dan tersenyum padanya.
Tiba saat pengumuman pemenang. Tanpa diduga Allysa mendapat juara 2. Ia pun sujud syukur karena ia mengira tidak akan dapat juara sama sekali. Juri mengatakan sebenarnya lagu yang dimainkannya sangat bagus tapi sayang berhenti di tengah-tengah lagu tadi membuat nilainya kurang.
Ingin rasanya ia langsung memberitau Jeongwoon bahwa ia dapat juara meskipun tidak juara pertama.
Tiba-tiba seorang cowok datang menghampirinya. “Chukae Allysa!! Seung Hooimnida” ucapnya sambil memperkenalkan diri. “Ne, gomawo chingu”. Balasnya. “Musikmu sangat indah tadi. Apa kamu menciptakannya sendiri??”
“Sekali lagi terima kasih atas pujiannya. Oh tidak, ini ciptaan temanku dan seharusnya dia yang mendapatkan penghargaan ini”. “Benarkah?? Pasti temanmu itu pengarang lagu yang hebat. Boleh kutau siapa temanmu itu??” .
“Kim Jeongwoon”. Orang itu mendadak kaget dan wajahnya menjadi pucat. “Tapi, bagaimana lagu itu bisa ada padamu?” nada suaranya mnunjukkan bahwa ia bingung.
“Memangnya kenapa? Dia memberitauku lewat ini.” Tunjuknya pada kalung yang dipakainya. “Sepertinya ada yang ingin kau katakan padaku”. Pancing Allysa. “Ok, akan kujelaskan tapi tidak disini” ajaknya keluar dari aula.
Allysa tidak percaya pada apa yang dikatakan orang yang baru dikenalnya ini. “Orang yang kamu maksud Jeongwoon itu ini kan?” tunjuknya pada gambar di ponselnya. “Dia dulu adalah sahabatku. Dia 2 tahun di atasmu. Dulu aku juga sulit menerima kenyataan bahwa dia meninggal karena bunuh diri, karena yang kutau dia anak yang baik dan tidak mungkin melakukan itu”.